Wow ini dia! Seluk Beluk Pernikahan Adat Betawi yang Mempercayai Keutuhan Pasangan dengan Simbol Roti Buaya

Wow ini dia! Seluk Beluk Pernikahan Adat Betawi yang Mempercayai Keutuhan Pasangan dengan Simbol Roti Buaya

By |2017-09-24T17:46:30+00:00September 24th, 2017|Gaya Hidup|0 Comments

”Bukankah zaman sudah semakin modern, kenapa masih saja percaya dengan simbol itu ya?”

Walaupun zaman sudah semakin modern, Jakarta masih menyimpan salah satu tradisi adat pernikahan Betawi yang filosofis dan kerap hadir acara pernikahan, ialah roti buaya. Ya setiap acara yang di gelar oleh kalangan adat betawi takkan pernah meninggalkan roti buaya.

Biasanya roti buaya yang memiliki panjang sekitar 50 cm ini dibawa oleh mempelai laki-laki pada acara serah-serahan untuk diberikan kepada pengantin wanita pada saat pernikahan berlangsung.

Images: dukhonajjib.blogspot.com

Jangan sampai lupa? Selain roti buaya mempelai laki-laki juga memberikan uang mahar, perhiasan, kain, baju kebaya, selop, alat kecantikan, serta beberapa peralatan rumah tangga. Ternyata dari beberapa barang-barang tersebut roti buaya lah hal yang paling memiliki peran penting bagi pernikahan adat betawi, bahkan bisa dikatakan wajib.

Loh kenapa bisa dikatakan wajib ya?

Jadi, Roti buaya ini memiliki arti tersendiri bagi adat betawi, karena sebagai simbolis di pernikahan betawi secara turun menurun, yaitu simbol kesetian dan kemapanan ekonomi. Dengan arti kedua pasangan pengantin akan saling setia dan pasangan yang  juga memiliki masa depan yang cerah dan bisa hidup mapan. Itulah wujud simbolis dari sebuah roti buaya.

Images: otonomi.co.id

Kenapa bentuknya harus buaya, bukankah masih banyak binatang lain yang lebih indah dipandang? Dan kita juga sering sekali mendengar kata ‘Buaya Darat’, bukankah itu artinya negatif?

Ternyata pertanyaan ini perlu diperjelas. Istilah ‘Buaya Darat’ sering digunakan untuk mendeskripsikan seorang laki-laki yang memiliki sifat tidak setia terhadap pasangannya.

Ternyata! Tahukah kamu bahwa simbol buaya sebenarnya tergolong binatang yang memiliki panjang umur dan setia seumur hidup pada pasangan. Bahkan, apabila biaya si betina lebih dahulu mati, maka buaya jantan tidak akan kawin lagi atau berusaha mencari pasangan yang lain atau baru.

Lebih mengejutkannya lagi buaya ini memiliki sifat yang perkasa/tangguh dan hidup di dua alam, ini juga dijadikan harapan dan impian  bagi pasangan  agar lebih tangguh dalam menghapi semua masalah dan bisa saling menerima apa adanya sebagai keluarga agar lebih mapan.

Inilah Perbedaan Adat Betawi Zaman Dahulu dengan  Sekarang dengan Simbol Roti Buaya!

Images: pusatis.com

Images: rotibuayartb.blogspot.co.id

Menurut JJ Rizal, ahli sejarah yang berdarah betawi, Buaya sendiri telah menjadi binatang yang dianggap suci oleh orang betawi jaman leluhur dan seekor buaya hanya mempunyai satu pasangan seumur hidup. Maka dari istilah ini, budaya betawi mempercayai bahwa adanya roti buaya akan melambangkan kesetiaan bagi pasang dalam pernikahan adat betawi.

Tak lupa JJ Rizal juga mengatakan, pernikahan adat dahulu dengan sekarang jauh berbeda. Dahulu, roti buaya sengaja dibuat dengan kreatif dan sebaik mungkin, semakin mengeras rori maka akan semakin berkualitas roti buaya tersebut dan tujuan sebenernya roti buaya ini bukanlah untuk dimakan.

Menurut pria mahasiswa dari salah satu universitas negeri di jakarta, Roti Buaya tidaklah untuk dimakan namun, roti buaya akan selalu dipajang ditengah-tengah ruangan hingga acara pernikahan selesai. Setelah itu, Roti buaya akan diletakkan diatas lemari pakaian di kamar kedua pasangan atau pengantin. Karena roti buaya keras dan tak mempunyai rasa, semakin roti itu keras maka kualitas roti itu akan semakin baik sehingga dapat bertahan lama dan biarkan roti buaya itu hancur dengan sendirinya.

Nah, inilah yang menjadikan simbol sesungguhnya bahwa pasangan suami istri hanya bisa dipisahkan dengan maut, Zaman sekarang filosofi seperti sudah mulai ditinggalakan. Jika kalian memesan roti buaya untuk pernikahan. Malah ditanya ingin rasa coklat atau keju. Ini Sudah menyalahi adat sebenernya loh.

Tidak hanya isinya loh yang dijadikan permasalahan. Roti buaya zaman sekarang teksturnya jauh lebih lembut dibandingkan roti buaya sesungguhnya. Dan juga roti buaya zaman sekarang sudah ditambahkan campuran macam-macam contohnya ditambah tempelan coklat atau kismis.

Padahal roti buaya dahulu sangatlah berat tekstur yang tak lembut bahkan keras seperti batu dan polos begitu saja tanpa adanya dekoran apapun.

Images: citizen6.liputan6.com

Roti buaya di pernikahan betawi zaman sekarang dibagikan kepada para tamu undangan setelah acara pernikahan sudah selesai. Sedangkan kedua pasangan mempelai tidak membawa roti tersebut ke kamar tidur mereka. Bukankah para tamu undangan datang dan menikmati minuman sirup serta makanan yang disediakan.

Ujar JJ Rizal yang terakhir tentang pernikahan adat betawi ini sudah mulai keliru. Tetapi tetap dibiarkan begitu saja tanpa adanya tindakan apapun. Simbol kesetiaan itu sebenarnya tidak boleh sama sekali dimakan, Karena diingatkan kembali binatang buaya ini adalah binatang yang suci, hingga sekarang.

Masih banyak beberapa orang yang ngaca atau mengaca alias ngaco, yaitu memberikan sesajen kepada leluhur buaya di kali atau sungai di Jakarta.

Meraka mempercayai itu, Itu sangatlah tidak benar.

Ya, Jadi itulah beberapa sejarah pernikahan adat betawi dengan seserahan  roti buaya ini. Lakukanlah adat ini dengan benar agar hasilnya akan sama dengan sesuai adat yang budaya betawi ajarkan. Jangan terlalu mengikuti zaman yang ada jika ingin berkah dan kedua pasangan ingin saling setia dan hidup bersama sampai maut menjemput.

Terima Kasih..

About the Author: