BloggerJakarta – “Jakarta itu keras, Bung! Butuh kerja mati-matian dan penghasilan tinggi untuk dapat bertahan hidup di sini!”¬†Pernahkah kamu mendengar seseorang menyatakan hal semacam ini? Benarkah pernyataan ini?

Mungkin ada benarnya kalau hidup di Kota Jakarta itu keras. Coba saja lihat para pengguna jalan yang berebut sedikit jalur kosong hanya demi segera terbebas dari kemacetan. Contoh nyata lain, para pengguna transportasi umum, seperti TransJakarta dan Commuter yang berebut naik demi mendapatkan kursi dan bisa duduk sepanjang perjalanan, lalu berebut lagi saat turun, entah apa yang membuat mereka begitu terburu-buru. Mungkin perlu pula ditambahkan jargon: waktu adalah uang!

Gambar: setara.net

Di sisi lain, tinggal di Jakarta juga identik dengan biaya hidup yang tinggi. Meski tiap hari naik turun angkot demi menghemat uang transport, tetap saja ada pengeluaran lain yang harus dilakukan, misalnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari (makan, minum), kebutuhan akan hiburan, biaya kos atau kontrakan, jalan-jalan sama pacar teman, bahkan biaya pulsa untuk membeli paket data internet.

Dengan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, mau tidak mau kita berupaya mendapatkan uang lebih dan lebih lagi melalui penambahan jam kerja (lembur), mencari pekerjaan sampingan, minta tambahan kiriman uang dari orang tua (untuk yang masih sekolah atau kuliah), dan sebagainya. Kalau kita bekerja sebagai karyawan di suatu perusahaan dan memiliki penghasilan tetap setiap bulan, masalah-masalah tadi masih bisa kita atasi. Minimal, kita hanya perlu menyesuaikan penghasilan yang kita dapatkan dengan pengeluaran yang perlu dilakukan agar tidak besar pasak daripada tiang.

Pada laman Kompas.com (28 April 2017) yang berjudul Hidup di Jakarta Dengan Gaji 3 Juta Cukup atau Kurang? telah diulas pendapat 5 orang warga Jakarta yang bekerja di Jakarta dan berpenghasilan kurang lebih 3 juta rupiah per bulan. Kelima orang itu hampir mengatakan hal serupa, bahkan dengan gaji sebesar itu, tetap terasa sulit untuk memenuhi semua kebutuhan kalau tinggal di Jakarta.

“Sekarang kalau nanya sama tim kerja di entry level yang gajinya tiga jutaan, mereka bilang nggak cukup. Mereka yang dari luar daerah sudah pasti harus bayar kamar kos sebulan sekitar 1,2 juta. Sisanya, untuk makan dan ongkos. Jadilah dia masih dibantu keluarga di kampung,” kata Fitri, 34 tahun, karyawan swasta.

Lalu, bagaimana dengan para freelancer yang tidak bekerja di suatu perusahaan (atau orang lain) dan memiliki penghasilan tak pasti? Bisakah para freelancer tersebut bertahan hidup di Jakarta yang tingkat pemenuhan kebutuhan hidup begitu tinggi? Bagaimana caranya?

Belajar Mengelola Uang

Gambar: startup.com

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah belajar mengelola uang. Banyak di antara kita yang begitu mendapat uang langsung memikirkan apa saja yang mau dibeli. Padahal yang mau dibeli itu belum tentu yang kita butuhkan saat ini. Oleh karena itu, tentukan terlebih dahulu mana kebutuhan dan mana keinginan semata sebelum membelanjakan uang. Dalam mengelola uang ini, kita juga perlu melakukan pencatatan keluar masuk uang, membagi penghasilan dalam pos-pos yang telah ditentukan, dan usahakan untuk tetap menabung. Penghasilan freelancer memang tidak terbatas, namun juga tidak pasti. Bisa jadi bulan ini penuh dengan job dan pemasukan pun mengalir. Tetapi bulan depan atau dua bulan lagi, kita belum tentu punya job seramai saat ini.

Gaya Hidup Freelancer yang Bikin Kantong Jebol

Ada banyak freelancer yang merasa memiliki waktu tak terbatas dan ingin terus eksis di mana-mana dengan alasan memperluas jaringan relasi, akhirnya sering nongkrong di kafe-kafe. Mereka duduk di depan laptop, ditemani segelas kopi dan makanan kecil yang harganya cukup mahal. Di lain waktu, mereka datang beramai-ramai bersama teman-teman, membicarakan banyak hal, bisa jadi membicarakan proyek baru yang akan mereka kerjakan bersama. Kegiatan ini, kalau dilakukan sesekali saja dan memang perlu dilakukan, masih tidak apa-apa. Tapi kalau dilakukan hampir setiap hari, apakah cukup penghasilan yang kita dapatkan untuk memenuhi gaya hidup yang satu ini?

Gambar: freelancer.com

Kerjakan Job yang Sesuai

Perhatikan job yang selama ini kita terima? Apakah job tersebut sesuai dengan kemampuan dan keahlian kita? Banyak freelancer yang merasa butuh uang akhirnya menerima banyak job tanpa pertimbangan dan pemikiran matang. Padahal, memilih job yang sesuai dengan kemampuan ada banyak keuntungannya, lho, seperti lebih cepat selesai hingga uang pun bisa segera didapatkan, kualitas pekerjaan baik dan klien akan dengan senang hati memberi job berikutnya, bisa lebih kreatif dan produkti karena kita bekerja di bidang yang kita tahu dan kita kuasai.

Sebaliknya, jika job yang kita terima tidak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki maka proses menyelesaikan pekerjaan itu jelas membutuhkan waktu lebih lama. Akibatnya, uang yang akan kita terima pun juga butuh waktu lama. Hasil pekerjaan belum tentu sesuai harapan. Produktif akan menurun akibat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu pekerjaan.

Kreatif Dalam Bekerja

Multitasking sangat tidak disarankan karena mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus sama saja kita tidak mengerjakan apa-apa. Hasil dari pekerjaan yang dihasilkan dari multitasking ini pun biasanya tidak maksimal dan kadang malah memboroskan waktu. Jadi, apa maksudnya kreatif dalam bekerja di sini?

Kreatif dalam bekerja ini adalah memadukan beberapa kemampuan dan keahlian yang kita miliki untuk menerima pekerjaan di bidang yang kurang lebih sama. Contoh: kamu seorang penulis buku. Kemampuan menulis tersebut sebenarnya juga bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan job sebagai penulis konten untuk suatu website atau brand, menjadi blogger, menjadi buzzer, atau kalau kualitas tulisanmu termasuk cukup bagus, kamu juga bisa menerima job sebagai editor freelance.

Contoh lain: kamu seorang desainer produk yang terbiasa bermain-main dengan software desain, membuat logo, banner, iklan, dan lain-lain. Kamu juga menguasai software semacam Indesign, Adobe Illustrator, Photoshop, dan sebagainya. Maka selain bekerja di dunia periklanan, kita juga bisa mengajukan diri menjadi layouter freelance di suatu penerbitan atau percetakan, menerima jasa desain banner, logo, iklan, atau kartu nama, dan sebagainya.

Sebenarnya, masih ada banyak lagi trik menjadi freelancer sukses, seperti bagaimana mendapatkan job? Pekerjaan freelance seperti apa yang harus dilakukan agar bisa menjadi freelancer yang sukses? Nanti ya, kita akan lanjutkan lagi di pembahasan berikutnya.

Tetap semangat.
Semoga memberi sedikit inspirasi dan bisa segera menjadi freelancer sukses.