Mengaku Warga Jakarta, Ini Tamparan Keras Tapi Pelan

Mengaku Warga Jakarta, Ini Tamparan Keras Tapi Pelan

By |2018-02-01T15:03:41+00:00Januari 30th, 2018|Gaya Hidup|0 Comments

BLOGGERJAKARTA.COM – Hidup di tengah hiruk pikuk Ibukota, membuat kita seakan terhipnotis oleh lingkungan sekitar kita. Paradigma bahwa Jakarta adalah kota yang keras, tepat para pejuang untuk bertaruh seluruh hidupnya sudah tertanam bahkan sampai ke alam bawah sadar kita, ya semua warga Jakarta.

Bagi warga kota lain di Indonesia, warga Jakarta pada umumnya dianggap spesial. Karena berada di dalam lingkaran penuh kemewahan, apalagi pandangan ini semakin diperkuat dengan setiap adegan film yang dilihat banyak orang melalui layar datar televisi. Rasa-rasanya hidup di Ibukota memang penuh kebahagiaan bagi mereka yang beruang, namun menjadi arena tinju bagi mereka yang kurang beruntung.

Kurang lebih seperti itulah pandangan masyarakat diluar Jakarta. Cukup tidak sesuai kenyataan bukan? Bagi Anda yang sudah lama hidup di Jakarta dengan sekelumit ceritanya. Mungkin ada sebagian pembaca yang merasa bahwa hidup di Kota Jakarta memang penuh perjuangan, namun sebagian lainnya mungkin malah merasa bahwa hidup di Kota Jakarta ya biasa-biasa saja bahkan tidak ada yang spesial atau berbeda dari kota lain, selain adanya Monas, pusat pemerintahan dan juga ratusan Mall yang bertaburan di hampir setiap sudut Kota tentunya.

Nah, jika kita melihat dari pandangan diatas bahwa banyak orang di luar sana merasa bahwa menjadi warga Ibukota itu spesial, padahal kita merasa tidak ada yang perlu di banggakan sedikitpun. Biasanya hal itu karena memang kita tidak menempatkan diri kita sebagai spesial, karena kita sering melakukan hal-hal di bawah ini

Jika bisa berada di Depan, Kenapa harus diam di belakang?

Hal yang pertama kali penulis bahas adalah masalah perilaku warga Jakarta terhadap lampu merah. Pernah enggak sih, pembaca sekalian memperhatikan bahwa banyak pengendara di Ibukota ini yang sepertinya hobi gitu untuk berhenti di depan garis pembatas lampu merah, bahkan dengan sengaja berdiam di garis zebra cross.

Padahal perilaku tersebut juga tidak akan membuat dirinya akan tiba setengah jam atau satu jam lebih awal ketika dia berada di belakang garis. Bagi pembaca yang juga merasa pernah melakukan hal ini, yuk di ingat lagi apa sih alasan kalian harus berada di depan garis lampu merah, atau senang aja gitu berhenti di garis zebra cross? Bagi yang punya alasan tolong jelaskan di kolom komentar ya.

Tapi kalau boleh berpendapat, hal tersebut sesungguhnya tidak elok, dan tidak perlu di lakukan. Toh juga sebenarnya hanya membuat kita berada sekitar 0,0000001 detik didepan pengendara yang lain. Dimana juga tidak akan membuat kita akan tiba lebih cepat bukan?

BACA JUGA :

Yuk rubah perilaku kita, Jakarta akan menjadi kota yang lebih spesial jika kita bisa patuh dengan rambu-rambu lalu lintas lho! Pasti akan jadi pemandangan yang menyenangkan, ketika kita berada di lampu merah dan semua pengendara di samping kiri dan kanan kita pun melakukan hal yang sama yakni tidak berada di depan garis lampu merah atau sengaja berdiam di garis zebra cross.

Identitas Populer Yang Tak Akan Pernah Bisa Lepas

Ya, macet adalah hal yang tak akan pernah bisa lepas dengan nama Kota Jakarta. Bahkan, jika warga kota lain di tanya apa yang dipikirkan jika disebutkan kata “Jakarta”, pasti macet adalah salah satu hal yang mereka sebutkan paling sering.

Seakan kondisi tersebut adalah kutukan yang Tuhan berikan atas keganasan kota Jakarta yang begitu menakutkan banyak orang yang enggan untuk bekerja 24 jam sehari.

Kalau boleh jujur, pada awal mula tinggal di Jakarta sekitar 7 tahun yang lalu. Rasa kesal akan macetnya lalu lintas Ibukota seakan menghias setiap hari-hari penulis. Apalagi ketika telah menyelesaikan studi dan bekerja, suasana macet di pagi dan sore hari adalah santapan yang harus di telan secara terpaksa.

Dimana, kondisi ini juga ternyata menjadi pemicu tingkat stres yang tinggi terhadap warga Jakarta. Lalu bagaimana sih sebagai warga Jakarta harus bersikap dengan kondisi ini? Yang bisa penulis sampaikan adalah, tetap nikmati perjalanan Anda, dan lihat bahwa Anda bukan satu-satunya orang yang berada di kondisi tersebut.

Kebut-kebutan dan sruduk kanan kiri bukanlah solusi untuk mengatasi macet. Perilaku saling mengalah dan memberikan jalan bagi pengendara lain adalah solusi untuk kemacetan Jakarta, dan buat Anda menjadi salah satu warga Kota Metropolitan yang spesial, yang bisa memberikan jalan bagi orang lain yang membutuhkan. Super gak tuh?!

Ah, ntar juga ada yang beresin!

Bersikap sebagai raja seperti datang ke restoran cepat saji, tidak berlaku sebenarnya jika Anda menginginkan identitas sebagai warga Jakarta yang spesial. Bahkan, jika kita pernah membaca salah satu cerita yang dibagikan oleh … melalui akun facebooknya tentang perilaku orang Indonesia ketika makan di restoran cepat saji di Bandara dimana ceritanya menjadi sangat populer/viral.

Hal tersebut disebabkan oleh masih banyaknya, masyarakat Jakarta yang umumnya ingin diperlakukan sebagai raja dan ingin orang lain melakukan sesuatu untuk dirinya.

Jika boleh dibilang, sampah adalah perilaku yang sangat sepele, namun dampak yang ditimbulkan seperti banjir dan menciptakan lingkungan kumuh, ternyata cukup memberikan dampak yang buruk untuk kota yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

Meskipun memang, saat ini sudah ada ranger orange yang bertugas untuk mengatasi permasalahan itu, namun dengan membantu mereka menyimpan sampah yang kita temukan atau yang kita ciptakan, dapat membuat kita menjadi seorang pahlawan yang mampu menunda terjadinya bencana banjir. Keren bukan? Bahkan seorang Tony Stark rasa-rasanya tak akan pernah memikirkan hal tersebut. Memikirkan gimana sih mencegah banjir.

Gue udah bayar, merem ah biar aman!

Perilaku seperti ini, sering kita temukan pada kendaraan transportasi umum. Karena merasa sudah membayar, dan sedang tidak sehat atau segudang alasan lainnya. Terkadang sering membuat warga Jakarta menjadi pribadi egois yang tidak memperdulikan keadaan orang lain.

Hal yang sering kita temukan, banyak mereka yang sedang berada di transportasi umum pada jam-jam sibuk seperti pagi dan sore hari, sering kali berpura-pura acuh bahkan sengaja tidur agar tempat yang mereka dapati tidak secara keadaan bisa diberikan ke orang lain, misalnya kepada wanita atau orang yang lebih tua misalnya.

Meskipun memang di kendaraan umum ada yang namanya bangku prioritas, namun tetap saja. Yang menduduki pertama kali adalah yang paling prioritas.

Hal seperti inilah yang harus kita jauhi sebagai warga yang spesial. Bertindak dengan saling perduli dengan keadaan orang lain, sesungguhnya akan menciptakan kehidupan sosial Kota Metropolitan yang semakin humanis dan bersahabat.

BACA JUGA :

Karena kita tidak akan pernah tahu, kapan kebaikan yang kita lakukan akan kembali pada kita atau pada orang-orang terdekat kita, yang kita sayangi. Sebab, dunia ini masih berlaku sebab-akibat. Apa yang kita perbuat, tentu hal tersebut akan kembali pada kita, baik secara langsung ataupun tidak.

Ibarat main Futsal, hantam semua ruang kosong!

Bagi yang suka melihat pertandingan futsal, pasti tidak akan heran memperhatikan tingkah laku pengendara di Jakarta yang mungkin bisa dibilang sangat terinspirasi dengan para pemain futsal, yakni suka mengisi ruang kosong.

Isi ruang kosong” adalah hal yang paling sering diteriaki oleh para pelatih di pinggir lapangan jika melihat anak asuhnya bertanding futsal. Hal ini pun sama perlakuannya seperti banyak pengendara yang selalu memanfaatkan semua akses yang ada untuk dilalui semata-mata menyalahkan macet dan menghalalkan segala cara termasuk menggunakan jalur pejalan kaki atau trotoar yang penting bisa lekas mendahului pengendara lain agar bisa tiba di tujuan lebih awal.

Disadari atau tidak, perilaku seperti ini sangat tidak layak dilakukan oleh warga Ibukota. Karena memang kenyataannya, selebar apapun jalanan Ibukota tidak akan pernah mampu menampung banyaknya pengendara yang memadati jalan raya pada waktu yang bersamaan terutama pada pagi hari saat berangkat kerja dan juga sore hari saat pulang kerja.

Dengan membiarkan trotoar tetap pada fungsinya, tentu akan membuat pemandangan Ibukota akan menjadi lebih manis. Meskipun kita sedang menikmati pahit-asemnya kemacetan dengan ribuan pengendara lainnya yang tengah berjuang untuk tiba di tujuan.

Kesimpulan

Menjadi warga Ibukota nyatanya memberikan penilaian lebih terutama oleh mereka yang tinggal jauh dari Ibukota dan hanya mengenal Ibukota dari sudut pandang kamera yang ditampilkan di layar kaca.

Siapapun yang tinggal di kota Jakarta ini, selalu menuntut agar Kota Jakarta menjadi kota yang benar-benar metropolitan berikut semua fasilitas dan semua aksesnya.

About the Author:

Running Enthusiast | Web Developer | Love to code, code to love.