Selain Monas, Jakarta punya satu gedung ikonik yakni Sarinah. Mungkin saat ini banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut. Maklum saja, gedung tua ini dibanding deretan gedung pencakar langit dan mal saat ini Sarinah seolah nggak ada apa-apanya. Well the truth is, Sarinah punya nilai historis yang membuatnya layak disebut sebagai ikon Jakarta. Mau tau? Baca di sini ya!

1 – Sumber Foto: Kaskus


SARINAH. Sebuah nama ‘kampung’ (maksudnya sederhana, bukan kampungan) yang ‘naik pangkat’ jadi salah satu nama paling terkenal di Jakarta. Siapa sih yang tak tau Sarinah Department Store? Malahan saking lekatnya nama Sarinah di kepala kita, mau menyebutkan area persimpangan Jl. MH Thamrin dan Jl. KH. Wahid Hasyim saja biasanya dengan gampang kita bilang “daerah Sarinah”. Ya kan?

Did you know, Sarinah merupakan pusat perbelanjaan pertama di Indonesia, sekaligus gedung pencakar langit pertama di Jakarta! Sarinah = gedung bersejarah. Pembangunan Sarinah digagas oleh Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Hal ini menyusul kunjungannya ke sejumlah negara yang sudah lebih dulu memiliki pusat belanja modern.

Presiden Soekarno bercita-cita mendirikan pusat perbelanjaan yang memenuhi kebutuhan rakyat Indonesia akan produk-produk berkualitas, dengan harga yang relatif terjangkau. Maka Sarinah Department Store yang dibangun dengan biaya rampasan perang pemerintah Jepang itu pun resmi dibuka pada 15 Agustus 1966. Nama “Sarinah” sendiri berasal dari nama pengasuh Soekarno pada masa kecilnya.

2 – Tiang pancang saat akan memulai pembangunan Sarinah. Sumber: Kaskus


3 – Presiden Soekarno memberikan pidato saat peletakan batu pertama Sarinah. Sumber: Kaskus


Sebagai pusat perbelanjaan modern yang pertama di Indonesia, Sarinah dikunjungi oleh masyarakat bukan hanya untuk belanja. Berbagai fasilitas modern (pada masa itu) pun menjadi daya tarik Sarinah. Seperti yang diungkapkan oleh beberapa teman saya yang semasa kecilnya (era ’80 – ’90an) kerap diajak orangtuanya mengunjungi Sarinah untuk …

MENJAJAL ESKALATOR!

“Dateng ke Sarinah bener-bener cuma untuk naik-turun-naik-turun eskalator. Rasanya seru dan menyenangkan banget waktu itu,” kenang Kak Ikung. Hahaha.

Hebatnya lagi, eskalator vintage yang ada di Sarinah sampai saat ini tuh masih original—alias sama dengan yang dulu loh! Eits, jangan kira hal itu berarti Sarinah ngirit atau pelit, sampe nggak mau beli eskalator baru. Menurut penjelasan Ibu Ira Puspadewi, Direktur Utama Sarinah, hal tersebut merupakan salah satu upaya Sarinah melestarikan sejarah. “Bukan cuma di Indonesia hal seperti ini dilakukan, di Prancis sana juga banyak gedung tua yang masih mempertahankan fasilitas lama. Di sana sih dianggap keren, sayangnya di sini kadang dianggapnya kuno aja,” ungkap Ibu Ira lagi.

4 – Eskalator Vintage Sarinah. Sumber: Dok. Sonya Tampubolon


Padahal kalau dipikir-pikir, maintenance untuk eskalator jadul ini pastinya jauh lebih merepotkan ya, karena logikanya mesin tua pasti tak bekerja se-optimal mesin baru. Jadi kalau Sarinah rela memberikan effort lebih besar demi melestarikan budaya, mungkin kita pun sebagai pengunjung dan pengguna fasilitas di sana harus lebih menghargai, serta maklum kalau ada kekurangan (misalnya eskalator sesekali tak berjalan atau berjalan namun lambat). Ada baiknya kita juga memberikan perhatian ekstra saat menaiki eskalator ini bersama anak-anak. 

 Menutup postingan ini, saya ingin mengutip salah satu jargon dalam pidato Soekarno: