Pengalaman Pertama Menyelami Jakarta

Pengalaman Pertama Menyelami Jakarta

By |2018-05-10T21:49:24+00:00Mei 10th, 2018|Gaya Hidup|0 Comments

Berbicara soal DKI Jakarta, mungkin tak sedalam kesanku terhadap Tangerang. Jelas, karena aku lahir dan besar di Tangerang. Tapi, rasanya Jakarta sempat memberikan kenangan pun pelajaran atas kisah hidupku.

Pengalaman pertama saat aku mulai menyelami Kota Jakarta, yaitu ketika aku memberanikan diri untuk melamar kerja di Jakarta. Niatan awalku saat melamar ke Kantor Pusat sebuah maskapai yang terletak di Jakarta Pusat agar ditempatkannya di Bandara Soekarno Hatta yang tidak begitu jauh dari Tangerang tempat aku tinggal.

Namun, mungkin kali ini aku sedang berjodoh dengan Kota Jakarta. Aku diterima bekerja di Kantor Pusatnya yang terletak di Harmoni Jakarta Pusat dibagain Call Center.

Mungkin bagi sebagian dari anak perempuan, sulit untuk mendapatkan izin ngekost di Ibu Kota. Dan aku salah satunya! Hingga untuk bekerja, aku memutuskan untuk pulang pergi Tangerang-Jakarta yang mesti menempuh perjalanan lebih dari 2 jam sekali jalan, itu pun kalau kondisi jalan tidak terlalu macet.

Pekerjaan kali ini, aku jalani tak berlangsung lama. Tapi waktu bukanlah faktor utama penentu pengalaman, bukan? Selama waktu kurang lebih 4 bulanan yang aku jalani selama bekerja di Jakarta mampu memberikan kesan di benak ini.

Bukan hal mudah dapat bertahan hidup di Ibu Kota Jakarta, semua membutuhkan perjuangan lebih. Sejatinya, kehidupan memang butuh perjuangan bukan?! Kali ini izinkan aku untuk menyelami Jakarta melalui ceritaku.

Menggunakan transportasi umum untuk bekerja memang sudah menjadi kebutuhanku. Dari Kutabumi Tangerang aku naik angkot roda niaga menuju Kalideres. Dan sesampainya di Kalideres aku mulai bertarung dengan penumpang transjakarta yang lainnya untuk sampai di tempat tujuan.

Hari Senin sampai Jum’at pada jam pagi pasti halte Kalideres penuh dengan para pekerja lainnya. Mendapatkan tempat duduk bagi kami yang masih muda mungkin mustahil. Ya, masih muda mah masih kuat dong untuk berdiri!

Saat pintu transjakarta terbuka mulailah drama berdesak-desakan terjadi. Semua pasti ingin dengan segera sampai di tempat kerja termasuk aku!

Kesanku akan Ibu Kota Jakarta semakin bertambah saat musim hujan tiba. Tidak pernah terlintas dalam benakku akan pulang kerja melewati jalan yang banjir dengan berjalan kaki!

Sore itu pada tahun 2013 awal saat hendak pulang, aku dibingungkan dengan tidak adanya kendaraan umum yang beroperasi. Transjakarta dengan jurusan Harmoni-Kalideres yang biasa aku andalkan, ia hanya diam kaku tak bersuara seolah acuh dengan penumpangnya. Begitu juga dengan mikrolet P12 yang menjadi alternatif lain untuk sampai ke Kalideres, yang tak kunjung ada kabar beritanya.

Aku dan dua teman lainnya yang pulang searah memutuskan untuk berjalan kaki. Sampai maghrib tiba kami masih disekitaran Kota Jakarta, dan memutuskan untuk melaksanakan kewajiban terlebih dahulu sebagai seorang muslim. Setelah hati tenang, kami putuskan untuk berjalan kembali.

Sebagai orang Tangerang yang baru bekerja di Jakarta selama beberapa bulan, tentu kaget melihat drama ini. Grogol dipenuhi dengan genangan air yang terbilang dalam.

Tak mungkin kami akan menunggu genangan air ini surut. Tentu akan memakan waktu yang sangat lama! Akhirnya, kami menerobos jalan yang banjir. Kami berjalan kaki dengan banjir sepinggang.

Mungkin bagi kalian yang sudah mengetahui kedalaman banjir saat tahun 2013 awal akan mengangguk dan merasakan drama ini.

Setelah berhasil melewati banjir di daerah Grogol, belum juga kami menemukan angkutan umum. Dan kami lanjutkan perjalanan hingga flyover Indosiar. Kami berjalan kaki dengan celana basah kuyup dan telanjang kaki. Dingin sudah menjadi teman kami saat itu.

Tepat berada di atas Flyover Indosiar, ada mobil losbak yang menawarkan kami untuk nebeng. Kami bertiga pun naik dan duduk di kursi depan samping sopir. Seperti didatangkan oleh malaikat penolong rasanya.

Huh, akhirnya! Sampai di daerah rawa buaya angkot sudah terlihat. Dan drama ini berakhir!

Seperti itulah perjuangan seorang pekerja dari Tangerang yang bekerja di wilayah Ibu Kota Jakarta.

Jakarta akan bersahabat selama kita meyakininya. Jakarta akan menawarkan kesan untuk kita yang peka. Kini izinkan aku kembali untuk menyelamimu wahai Ibu Kota tercinta.

 

About the Author:

Perempuan kidal berkepribadian INTJ yang senang menulis dan baru berkecimpung di dunia digital painting.