Pengalaman Baru Menjadi Warga Pendatang di Ibukota

Pengalaman Baru Menjadi Warga Pendatang di Ibukota

By |2018-06-01T11:59:18+00:00Juni 1st, 2018|Wisata|0 Comments

Menjadi penduduk di Ibukota bagi saya merupakan pengalaman yang baru. Sebelum bermigrasi ke Ibukota, saya seorang anak daerah.

Banyak sekali perbedaan yang terlihat di depan mata tentang Ibukota dengan tempat saya terdahulu.  Mulai dari bahasa, tata krama, budaya, gaya hidup bahkan kuliner hingga lokasi wisata juga sangat berbeda.

Hal yang paling saya senangi saat mulai tinggal di Ibukota adalah saat mendatangi berbagai ratusan kawasan perbelanjaan yang tersohor. Maklum, sebagai seorang wanita, tempat yang selalu di buru adalah kawasan perbelanjaan.

Meskipun kawasan perbelanjaan di Ibukota lebih banyak berupa mall, saya lebih senang berbelanja di kawasan Tanahabang. Selain bisa melakukan transaksi tawar menawar, saya juga bisa melakukan rutinitas kesehatan.

Kenapa? Karena setiap kali saya datang ke daerah Tanahabang, harus rela berdesak – desakan dengan para pedagang dan pembeli untuk menjalani satu demi satu lapak yang ada. Butuh tenaga ekstra untuk naik, turun tangga dan pindah gedung.

Di saat weekend, saya lebih banyak meng-eksplore pariwisata di Ibukota. Jujur, dulu saya hanya berkunjung ke Ibukota saat menjenguk almarhum tante saya dan diajak ke Tugu Monas.

Kalau sekarang? Pastinya tujuan utama adalah Kota Tua dan Sunda Kelapa. Setiap sudut yang ada, selalu saya jadikan tempat berburu foto–foto kece.

Belum lagi, destinasi wisata Ancol yang menjadikan favorit untuk didatangi, meskipun harus merogeh kocek dalam. Nggak afdol juga kalau belum berkunjung ke kawasan Jakarta timur di Taman Mini.

Ah, saya paling suka wahana gondola. Baik di Ancol maupun TMII, selalu ketagihan menaikinya. Dan tentunya, wisata di kawasan daerah PIK, hutan mangrove.

 

Beberapa hari terakhir ini, saya mencoba mendatangi Museum nasional dan Perpustakaan Nasional. Dengan gedung baru dan lebih tertata, kesan pertama saya adalah tempat wajib untuk di datangi.

Selain bisa menambah wawasan lebih banyak, bisa juga mendapatkan ide–ide menulis disana. Bukan berarti tempat yang terdengar kuno itu selalu terlihat kuno.

Tergantung cara mengemasnya dan menyampaikan ke masyarakat. Nyatanya selalu banyak pengunjung yang berdatangan. Apalagi kalau banyak bule yang berkunjung. Berarti lokasinya ramah turis, bukan ?

Nggak ketinggalan juga untuk berburu kuliner khas Ibukota. Seperti Kerak Telor, Es Krim Ragusa dan Soto Betawi. Tiga makanan khas yang saya paling suka adalah soto betawi. Karena bisa digunakan untuk konsumsi sehari – hari dan tentunya, ramah di lidah.

Komunitas yang saya ikuti di Ibukota cukup lumayan banyak. Hingga akhirnya saya sortir satu persatu karena kelelahan mengikuti semua aktivitas komunitas yang banyak menyita tenaga.

Saya akui, orang–orang Ibukota semangatnya luar biasa! Saya seneng banget melihat antusiasme warga Ibukota yang saling bersaing dan mensupport satu dengan yang lain.

Bisa jadi self reminder buat saya. Dan yang paling bikin saya bangga itu, orang – orangnya kreatif, bebas berkeskspresi tanpa ada beban adat istiadat. Asalkan attitude baik dan sopan, orang masih bisa menerima.

Oh, iya! yang saya senangi kalau lagi jalan–jalan di Ibukota itu, lampu – lampu gedung yang belum pernah ditandingi sama kota – kota lainnya. Meskipun cuma melihat secara sekilas, lampu gedung mampu membuat imajinasi saya melayang tentang keromantisan Ibukota.

Semoga, Ibukota kedepannya semakin lebih baik. Semakin banyak generasi muda kreatif bertebaran dan mau membagikan ilmu kepada sesama.

About the Author: