Hati-hati dalam berucap. Para calon tukang becak bisa jadi salah tangkap.

BLOGEGRJAKARTA.COM – Itu yang ingin disampaikan Amin, salah seorang warga sekitar Muara Baru, Jakarta Utara, kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, soal bolehnya becak mengaspal kembali. Selama tinggal di Muara Baru, Amin memang begitu akrab dengan beberapa tukang becak pangkalan.

Namun ia tidak akan bisa menerima para pebecak baru di sekitarnya. Jika sampai ada, ia khawatir kemacetan dan keributan masif terjadi di lingkungan tempat tinggalnya.

Untuk itu, ia ingin dan sangat meminta pemerintah untuk menggunakan bahasa yang merakyat agar bisa dimengerti para sopir becak di seluruh Indonesia.

“Kalau ada kata ‘bebas’ (beroperasi), bisa terkumpul 200-300 becak di sini. Ujung-ujungnya ribut, ‘Ah orang Gubernur sudah bilang boleh’ nah,” kata Amin.

Sepertinya itu memang fakta yang sulit untuk dihindari. Pendidikan di Indonesia sangat tidak merata. Sehingga kemungkinan salah paham semakin besar antara pemerintah dan rakyatnya.

Jika itu sampai terjadi, jangan sampai jumlah pebecak di Jakarta seperti pada 1966 yang mencapai 160 ribu unit. Bayangkan, pendatang-pendatang baru yang hadir ingin menarik becak.

“Saudara saya saja mau datang ke Jakarta buat ‘narik’, ada lah 2-3 orang dari Wonosobo,” kata Sugimin kepada Tirto saat ditemui di kawasan Pasar Serdang, Sunter, Sabtu (20/1/2018).

Rekomendasi Pembaca :

Sugimin hanya satu dari sekian orang pebecak yang mungkin berkata serupa. Sungguh, perkataan Presiden RI ke-1, Sukarno, sebaiknya harus dipikirkan dengan benar, yaitu becak merupakan simbol ketertinggalan kota dan alat angkut yang tak manusiawi lantaran menggunakan tenaga manusia.

Bagaiman tidak manusiawi? Menarik becak jelas membutuhkan tenaga yang ekstra.

Beratnya barang bawaan penumpang atau penumpang itu sendiri sungguh melelahkan. Penghasilan pebecak pun sama sekali tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

Saya akan lebih setuju dengan pendapat Darmaningtyas, dalam artikelnya “Gubernur Anies Dan Becak Jakarta”. Seorang analis pendidikan itu, meminta Anies-Sandi memanajemen becak secara professional agar lebih manusiawi, dengan merekrut pengemudi muda yang dilatih secara khusus.

Seperti terlihat di lapangan, para pebecak rata-rata berusia 55 tahun ke atas. Usia yang sudah seharusnya pensiun atau tidak produktif. Untuk itu, sebaiknya pemerintah merekrut para pengemudi muda untuk menjadi sopir becak.

Selain itu, sopir becak seharusnya punya seragam dan dilatih melayani penumpang. Jangan lupa, gaji bulanan sesuai upah minimum provinsi (UMP).

Anak muda mana mau jadi sopir becak?

Kata siapa? Buktinya banyak para sopir ojek online yang usianya dari belasan tahun sampai kepala tiga. Usia-usia yang begitu produktif untuk bekerja berat seperti mengayuh sepeda roda tiga ala becak.

Sepertinya pemerintah dalam hal ini Anies Baswedan dan Sandiaga Uno sebagai Wagub DKI, harus memikirkan kebijakan ini matang-matang. Beroperasinya becak sebaiknya tidak hanya pemenuhan janji kampanye semata, melainkan harus memperhatikan sisi kemanusiaan juga.

Baca Juga :

Terbukti, Darmin (50), salah satu pebecak di Pasar Muara Baru, saat ditanya oleh saya soal mau tidak menerima pekerjaan lain selain pebecak, mungkin seperti PPSU? Ia berkata “Ya mau.”

Darmin (kiri) dan saya (kanan)

Ia lelah dengan semua ini, meski tidak perlu kucing-kucingan lagi dengan Satpol PP. Ia lelah menjadi pebecak dan memberi sedikit uang ke keluarganya di kampung. Darmin lelah terus mengayuh sepeda di usianya yang semakin menua. Semoga, ia tetap sehat sampai pemerintah menyelamatkannya juga pebecak lainnya.