Berwisata Religi di Museum Taman Prasasti

Berwisata Religi di Museum Taman Prasasti

By |2018-03-12T23:30:06+00:00Maret 12th, 2018|Wisata|0 Comments

Berkunjung ke Monas selain menikmati kemegahan icon Kota Jakarta jangan lupa mampir ke lokasi wisata religi Museum Taman Prasasti. Museum yang letaknya tak jauh dari Monas, Jakarta Pusat ini adalah sebuah cagar budaya peninggalan masa kolonial Belanda.

Untuk menikmati objek wisata ini cukup merogoh kocek Rp 5.000,- saja, sangat murah bukan. Hal pertama yang akan dilihat pengunjung ketika datang ke Museum Taman Prasasti, adalah dua buah kereta jenazah. Dua kereta tersebut berada persis sebelum meja tempat membeli tiket.

Kemudian saat memasuki gerbang bagian utama museum terlihat berisi hamparan batu-batu nisan. Pengunjung juga akan langsung melihat ada sebuah lonceng. Lonceng tersebut dulu dibunyikan ketika ada jenazah datang untuk dimakamkan.

Jika melihat ke sebelah kiri, ada sebuah patung perempuan yang terlihat menangis. Menurut legenda, perempuan tersebut sangat sedih kehilangan sang suami yang baru dinikahinya selama beberapa bulan akibat malaria. Karena tidak kuat menahan rasa sedih, akhirnya perempuan ini meninggal gantung diri

Selain itu, di sisi sebelah kiri juga terlihat dua buah peti jenazah di dalam kaca. Kedua peti ini pernah digunakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Ketika perwakilan Kedutaan Jepang datang ke Indonesia pun biasanya menyempatkan diri untuk bersembahyang di sana.

Selanjutnya, di depan batu Jepang tersebut terdapat nisan berbentuk seperti rumah. Bangunan yang sering disebut rumah bumi ini merupakan makam keluarga A. J. W. Van Delden. Dia merupakan seorang juru tulis di Indonesia Timur dan pernah menjabat sebagai ketua perdagangan VOC.

Berjalan sedikit ke arah kiri dari rumah bumi, terdapat makam istri Thomas Stamford Raffles, Olivia Mariamne Raffles. Batu nisannya terbuat dari batu andesit. Dia memiliki wasiat untuk dimakamkan dekat sahabatnya yang bernama John Casferleyden. Sekarang batu nisan mereka pun letaknya bersebelahan

Kemudian pengunjung akan melihat beberapa batu nisan lain yang terlihat besar dan megah. Contohnya batu nisan berbentuk seperti candi yang merupakan milik seorang ahli sastra Jawa kuno bernama Dr. Jan Laurens Andries Brandes.

Bagian atas candi tersebut tidak utuh. Hal itu merupakan simbol bahwa dia masih memiliki keinginan yang belum tercapai.

Terdapat juga batu nisan yang berbentuk seperti katedral berwarna hijau. Batu nisan ini dibuat untuk Panglima Perang bernama J. J. Pierrie karena jasanya yang dianggap besar oleh pemerintah.

Pengunjung juga akan melihat batu nisan berbentuk seperti tugu monumen. Dibuat oleh arsitek dari New York bernama R. E. Launitz. Batu nisan ini merupakan milik Direktur Jenderal Finansial Hindia Belanda bernama L. Launy.

Tak berhenti disitu, di makam ini juga terdapat batu nisan berbentuk seperti tembok besar dengan kepala tengkorak tertancap di atasnya. Batu nisan ini merupakan replika dari tembok peringatan yang dulu ada di daerah Pangeran Jayakarta, Jakarta Pusat.

Tembok tersebut dibangun untuk memperingati mendiang R. Bervelt. Dia adalah orang Belanda keturunan Jerman Siam yang menjadi pemberontak pemerintah dan ingin melakukan pembunuhan massal saat malam tahun baru.

Namun, rencananya telanjur ketahuan oleh pemerintah Belanda. Akhirnya dia dihukum dengan ditarik tubuhnya oleh empat ekor kuda

Alasan dibangun tembok di tempat Brevelt tewas untuk memberi peringatan kepada pemberontak lain bahwa mereka akan mendapat hukuman yang sama jika melakukan pemberontakan. Pemerintah Belanda juga melarang masyarakat untuk membangun apapun di sekitar tanah tempat tembok tersebut berdiri.

Selain itu, pengunjung juga akan melihat patung laki-laki berwarna cokelat. Konon, itu adalah patung seorang pastur yang mendirikan yayasan Vincentius di Jakarta.

Masih terdapat beberapa tokoh penting lain yang terdapat batu nisannya di sana. Salah satunya adalah Dr. H. F. Roll yang merupakan kepala sekolah Dokter Jawa yang kemudian berganti nama jadi STOVIA.

Kini sekolah  tersebut berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ketika menjadi kepala sekolah memiliki ide untuk meningkatkan pendidikan agar lulusan sekolah Dokter Jawa bisa langsung menjadi dokter.

Lalu, terdapat batu nisan milik Gubernur VOC terakhir, Gerardus van Overstraten. Arsitek gereja Katedral Jakarta Pusat, Marius Hulswit juga ada batu nisannya di Museum Taman Prasasti.

Setelah mengunjung Museum Prasasti, kita akan menyadari bahwa sejarah Indonesia amatlah kaya. Terutama dengan adanya peninggalan makam makam para tokoh. Sehingga kita sebagai warga negara yang baik akan tetap menghargai warisan sejarah tersebut untuk menjaga dan melestarikannya

 

About the Author:

Seniman Kata Penyuka Sastra