Sampah dan Jakarta merupakan klise nyata yang hingga kini menjadi permasalahan bersama seluruh warga Ibukota. Pasalnya, kekurang pedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan ini menyebabkan dampak negatif dan bukan hanya terhadap nilai estetika karena tidak sedap dipandang tapi juga nilai kesehatan.

Sampah menjadi sumber penyebar dan berkembangbiaknya faktor penyakit. Diare, tifus, DBD, dan masih banyak lagi merupakan dampak yang ditimbulkan dari masalah sampah.

Lagi-lagi bicara sampah, Indonesia menempati urutan kedua negara dengan penyumbang sampah kelautan terbesar di dunia. Tentu saja ini bukan merupakan sebuah prestasi yang dapat dibanggakan.

Sebuah Ketidakpedulian

Kurangnya rasa peduli terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan menjadi suatu fenomena yang tak bisa dielakkan. Budaya turun temurun membuang sampah tidak pada tempatnya menjadi tali yang sulit dilepaskan.

Padahal membuang sampah sembarangan merupakan suatu bentuk pelanggaran. Orang yang terbukti membuang sampah sembarangan akan dikenakan denda sesuai Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah. Dendanya maksimal Rp 500.000.

Hanya Sedikit

Sayangnya dengan adanya berbagai peraturan mengenai persampahan hanya sedikit orang yang sadar dan taat pada peraturan tersebut.

Upaya pemerintah dengan memperkerjakan pasukan oranye ditengah padatnya persampahan Ibukota hanya berdampak kecil. Pasalnya banjir hingga kini masih banyak terjadi di berbagai sudut Jakarta akibat tersumbatnya aliran sungai oleh sampah. Belum lagi bau tak sedap yang berasal dari sungai dengan air pekat hitam yang membuat setiap orang yang lewatnya bergidik.

Diperkirakan produksi sampah mencapai 0,5 – 0,8 kilogram (kg) per orang per hari. Jika setiap orang membuang sampah sembarangan, bayangkan berapa banyak sampah yang akan menumpuk dan memberi dampak negatif bagi lingkungan.

Penumpukan Sampah

Belum lagi masalah sampah yang dibuang sembarangan, hal yang juga menjadi permasalahan sampah ibu kota adalah penumpukan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Dalam sehari warga DKI Jakarta menghasilkan 7000 ton sampah yang dibuang ke TPA Bantar Gebang.

“Membuang sampah sembarangan dan/atau membuang barang yang masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan diri maupun orang lain hukumnya haram” – Fatwa MUI bernomor 47 tahun 2014.

Solusi di Hilir

Selain pasukan oranye, upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi permasalahan sampah adalah dengan bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui sistem pengolahan sampah dengan cara pengawetan energi panas untuk menghasilkan listrik. Program tersebut menjadikan TPA sebagai pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) dengan kapasitas sebesar 50 ton sampah per hari dan mampu menghasilkan listrik sekitar 400 kw.

Solusi di Hulu

Upaya pengurangan masalah sampah sebaiknya memang dimulai dari bagian Hulu. Namun untuk memulainya dibutuhkan partisipasi dari seluruh warga DKI Jakarta, yaitu dengan mengurangi penggunaan barang-barang yang berpotensi menjadi sampah, seperti mengurangi penggunaan plastik, sedotan, minuman kemasan sekali pakai, dan lain-lain.

Selain itu, ada juga bank sampah sebagai solusi pengurangan sampah sebelum ke TPA. Pasalnya dengan adanya bank sampah, jenis sampah yang masih dapat dimanfaatkan atau di olah kembali tidak langsung dibuang melainkan bisa di-uang-kan. Tentu saja hal ini bukan hanya menjaga lingkungan namun juga dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bank Sampah Kampung Koran

Tepatnya di daerah Palmerah, Jakarta Pusat. Letak kampung koran yang berada di belakang gedung perkantoran kompas ini cukup menarik. Sekumpulan orang-orang yang bisa dibilang sudah tidak muda lagi, setiap 2 minggu sekali berkumpul di sebuah lapangan, asik menimbang dan memilah sampah berdasarkan jenisnya untuk kemudian dijual ke pengepul.

Umur bukan menjadi hambatan bagi mereka, justru merekalah yang memiliki semangat tinggi untuk bebenah lingkungan. Di daerah ini terdapat 3 bank sampah yang sudah terkelola dengan baik sejak 2 tahun ke belakang, yaitu RW 02 Kelurahan Gelora dan RW 06 dan RW 14 Kelurahan Grogol Utara.

Belajar dari Mereka

Salah satu nya Pak Wal ini, di usianya yang sudah menginjak kepala 5 ini masih giat mengajak masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam bank sampah, alasannya satu, “kalau bukan dari kita yang peduli lantas siapa lagi?” Begitu celoteh bapak tersebut ketika saya kebetulan dapat kesempatan berkunjung ke Bank Sampah RW 06.

Pak Wal – Bank Sampah Kampung Koran

Kalaupun ada warga yang malas untuk memilah dan membawa sampah ke Bank Sampah, Pak Wal dan kawan-kawan siap mengambil sampah kering mereka langsung ke rumah-rumah warga.

Pengurus Bank Sampah RW 06

Untuk mendirikan Bank Sampah

Sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Alat yang diperlukan pun hanya berupa timbangan dan buku catatan administrasi. Selanjutnya bangun kerja sama dengan pengepul terdekat untuk menjual kembali sampah yang telah terpilah tersebut. Kita pun harus selalu meng-update harga beli dari pengepul setiap saat, karena harga selalu fluktuatif.

Kegiatan Menimbang di Bank Sampah

Lebih lengkap pedoman mengenai Bank Sampah ada dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia No 13 tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, dan Recycle melalui Bank Sampah.

Yang sulit adalah mengajak masyarakat sekitar untuk berpartisipasi

Perlu usaha keras untuk mengajak warga agar mau memilah sampah agar bisa dijual ke bank sampah. Alasan terbanyak adalah ribet dan uang yang dihasilkan memang tak seberapa ini. Namun seiring berjalannya waktu, dengan kegigihan usaha dari para pengurus untuk mengajak warga sekitar menabung di Bank Sampah akhirnya jumlah nasabah di Bank Sampah kini sudah lumayan banyak, sekitar 100an orang yang terdaftar.

Uang yang dihasilkan dari menabung di Bank Sampah biasanya diambil setiap enam kali penabungan atau ketika menjelang Hari Raya. Beberapa nasabah yang rajin menabung pernah mendapat uang hingga 600ribu. Jumlah tersebut dapat dibilang cukup tinggi mengingat modal yang digunakan adalah sampah.

Manfaat Memilah Sampah

Dengan memilah sampah berdasarkan jenisnya sejak hulu (rumah tangga, industrial, atau individual) dapat mengurangi hampir setengah dari jumlah yang biasanya dibuang ke TPA. Jika hal ini sudah menjadi kebiasaan dan budaya yang dilakukan oleh semua orang tentunya permasalahan sampah Ibu Kota dapat teratasi dan jumlah sampah dapat dikurangi.

Tentunya dengan berkurang nya sampah, lingkungan menjadi bersih, nyaman, dan masyarakat yang tinggal di lingkungan tersebut tidak mudah terserang penyakit. Yuks jaga lingkungan dengan kurangi sampahmu sekarang juga! 🙂